Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

MATEMATIKA SAINS ATAU BUKAN

Orang-orang sains barat (positifistik)
Menganggap bahwa “sesuatu dikatakan ada apabila sesuatu itu dapat diketahui, dan suatu hanya dapat diketahui apabila sesuatu itu dapat diinderai sehinnggga ketika sesuatu itu tidak dapat di inderai maka sesuatu itu tidak dapat diketahui dan ketika tidak dapat diketahui maka Sesutu itu adalah ketiadaan”, karena yang diindrailah yang ada maka landasan untuk menilai sesuatu itu berdasarkan pengalaman kita terhadap sesuatu itu, misalnya ketika kita melihat rumah maka kita akan mengatakan pastilah orang yang membuat rumah itu, karena ada pengalaman kita tentang pembuatan rumah. Dan karena itu juga sehingga metode yang dingunakan untuk mengetahui adalah dengan eksperimen.
Karena para saintis modern (positiistik) menganggap bahwa yang ada hanyalah materi maka untuk mengetahui segala sesuatu kita harus hilangkan perasaan, agama, karena ketika kita tidak menghilangkan agama maka kita tidak bias mengetahui struktur tubuh manusia kita tidak akan bias mengetahui alam semesta ini, maksudya ketika agama hadirmaka kita akan terhalangi untuk mengetahui segala sesuatu yang betul-betul objektif.
tapi apakah agama memang seperti itu adanya ataukah dengan adanya agama maka segala sesutau yang ada di ala mini lebih mudah untuk kita pahami??? Ataukah orang-orang sains itu Cuma dendam pribadi terhadap agamawan sehingga berbicara seperti itu???
Ada baiknya kita melacak kenapa sains berbicara seperti itu, pada zaman gereja para kaum gerejawan mengatakan bahwa bumi ini adalah pusat tata surya yang di kelilingi oleh tatasurya, dan bumi ini datar, dan inilah yang diyakini oleh masyarakat pada saat itu sampai ada ilmuan yang menemukan bahwa yang menjadi pusat tata surya itu bukanlah bumi tetapi matahari dengan bukti-bukti yang dia temukan. Dan ada juga yang menemukan bahwa bumi ini tidak datar tetapi bulat dengan bukti bahwa etika kita bergerak dari satu titik kea rah barat terus menerus maka kita akan kembali ke titik semulah dari arah timur. Dan orang yang menentang itu di hokum mati oleh gereja atas tuduhan melakukan bid’ah terhadap ajaran agama disinalah dimulai pertarungan antara agama dengan sains di mulai.
Dan yang memenangkan pertarungan ini adalah sains buktinya pada zman setelah itu muncul mesin up yang notabenenya adalah temuan saintis-saintis. Dan mereka mengambil kesimpulan agama akan mencegah kita dalam mengetahui segala sesuatunya,
Ketika kita melihat bahwa teman kita waktu di sekolah dulu itu selalu dapat juara dalam setiap pertandingan dan ketika kita mengamati orang ini dan kita mendapatkan data bahwa orang itu ternyata pakaiannya selalu rapi menurut pada guru dan berkacamata setelah kita lanjutka pendidikan di perguruan tinggi kita dapati seorang yang berkacamata, menurut pada dosen dan pakaiannya selalu rapi sehingga kita menarik kesimpulan bahwa orang itu pasti selalu mendapatkan juara.
Atau ketika kita mendapati seseorang yang ada di suatu desa dating kekota dan orang iini selalu berprilaku gila maka kita mengatakan bahwa desa dimana orang itu berasal adalah tempat orang gila. Apakah seperti itu kita teliti, apakah kita pernah melihat semua orang yang ada di desa itu , kalo tidak mengapa kita mengambil kesimpulan seperti itu karena jangan sampai orang di desa itu tidak semauanya gila atau jangan sampai Cuma orang itu sajalah yang gila, dan pernahkah kita melihat atau menguji semua orang yang berkacamata, berpakaian rapi, dan menurut pada orang yang lebih tua, kalau tidak lalu kenapa kita mengambil kesimpulan yang seperti itu karena jangan sampai tidak semua orang yang berkacamata, berpakaian rapi, dan menurut pada orang yang lebih tua (guru) itu pintar. Itu semua hanyalah kesalahan berfikir atau kesesatan berfikir yang disebut ofer generalization oleh kan jalal.
Kita lanjutkan ke permasalahan sains dan agama, apakah orang yang mengatakan agama akan menghalangi kita untuk mengetahui segala sesuatu yang berkenaan dengan alam, jangan sampai hanya orang-orang yang menafsirkan agama itu salah, coba kita melihat apa yang terkandung dalam agama itu.
Agama
Ada beberapa pandangan terhadap agama diantaranya

*  Agama adalah prodak ketakutan, ketika kita menyaksikan kekerasan yang terjadi di ala mini misalnya bencana alam yang di akibatkan oleh banjir, gempah, dan sebagainya makanya ketika kita berada di tengah lautan dan membayangkan sesuatu yang mengerikan terhadap air maka kita akan menghadirkan sesuatu yang akan bisa menolongkita dalam rasa ketakutannya kita, sehingga melintaslah agama adalam benak kita, Lukretius seorang filosof yunani menyebutkan bahwa nenek moyang pertama para dewa adalah dewa ketakutan, dan di zaman kitaa sekarang masih banyak yang menyakini hal ini dan menganggapnya itu adalah sesuatu yang baru.
*  Agama adalah prodak kebodohan, ada orang yang beragama karena ketidak tahuan mereka pada sesuatu yang terjadi di alam ini, misalnya ketika ada orang yang meninggal dunia maka merka langsung mengatakan bahwa yang membuatnya meninggal adalah Tuhan, padahal mereka hanya tidak tahu bahwa penyabab orang itu meninggal karena terserang penyakit jantung yang pada malam sebelum dia meninggal dia mendengar suara guntur yang begitu besar.karena memang suatu keniscayaan bagi manusia untuk mencari sebab-sebab kenapa sesuatu bias terjadi sehingga ketika mereka sudah tidak mendapatkan lagi sebabnya dia langsung menisbahkannya kepada yang metafisis, seperti pada contoh yang saya sebutkan tadi.
*  Pendambaan kepada ke adilan dan ketenangan, manusia ketika mereka melihat ke tidak adilan, kekerasan, maka dia tidak suka dengan hal yang seperti itu dan ketika mereka menyaksikan itu maka mereka membuat agama dan berpegang teguh kepadanya, sehingga mereka melihat ke adilan

Para penganut agama yang seperti di atas atau itu meyakini bahwa ketika adanya ilmu pengetahuan seperti yang sekarang ini maka pengaruh agama akan tidak ada lagi. Karena digantikan oleh ilmu pengetahuan.
Tapi agama itu adalah
Tapi apakah agama di zaman sekarang ini sudah tidak ada?? Jawabannya masih ada sehingga tidak benarlah bahwa ketika ada ilmu pengetahuan maka agama akan hilang dengan begitupulah konsep agama yang seperti di atas itu tidaklah benar
Tapi agama adalah fitrah bagi manusia yang sudah ada ketika manusia itu dilahirkan kemuka bumi ini,
Dan pada awalnya ilmu pengetahuan itu berasal dari sumur-sumur kenabian yang merupakan ajaran yang dibawakan oleh agama., seperti cntoh yag pertama sekali yang membahas tentang bahasa adakah hermes yang banyak orang mengatakan bahwa dia adalah seorang nabi dari orang-oorang islam.dan seterusnya sampai masuk kedalam yunani, dan mulailah masa yunani berkembang sampai dengan aristoteles. Sampai ke abad ke gelapan yang mengikuti semua apa yang di perintahkan (dikatakan) oleh gereja sehingga banyak ilmuan yang di bunuh pada zaman itu sehingga muncullah dendam yang membara dari kaum ilmuan, sehingga mereka mengatakan bahwa yang tidak dapat di inderai itu bukannlah ilmu tapi itu hanyalah tahayyul. Trus pertanyaannya kita apakah objek matematika itu bisa di indrai...???

Read more...

Siapa Bilang HMI Pluralis?

Oleh hminews
Dalam artikel HMI antara Harapan dan Kritik,'' Muhammad Nasih banyak mengupas tentang eksistensi HMI sebagai organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar di Indonesia. Selain itu juga mengakui atas dosa-dosa'' yang telah dilakukan terhadap para pendahulunya.



Namun, dalam tulisan itu saya masih melihat ada ketidaksesuaian dengan realitas. Pada tulisan ini, saya akan menunjukkan kesalahan-kesalahan itu sebagai catatan bagi tulisan Muhammad Nasih, sekaligus sebagai kritik untuk HMI dan KAHMI.

Pada alinea kelima tertulis, Satu kekuatan yang paling fundamental, pluralitas anggota. Tanpa pandang bulu, HMI mengakomodasi mahasiswa dari berbagai latar belakang.'' Hal ini sangat jauh dari kebenaran. HMI merupakan organisasi kemahasiswaan yang salah satu ruang geraknya, keagamaan Islam. Sebagai konsekuensi logis, mahasiswa yang tidak beragama Islam (nonmuslim) dilarang keras untuk masuk ke dalamnya. Ini kesalahan pertama.

Ketidaksesuaian kedua pada alinea kedelapan. Di situ ditulis, Karena pluraritas ini, muncul benturan-benturan pemikiran para anggota yang memunculkan dialektika pemikiran, sehingga membuat organisasi menjadi sangat dinamis, dan juga sekaligus moderat.''

Yang menjadi pertanyaan reflektif dari kalimat itu, mengapa HMI kini terpecah menjadi HMI Dipo dan HMI MPO? Di manakah letak kemoderatan organisasi?

Dengan perpecahan itu, jelas tidak bisa dikatakan kalau HMI mengakomodasi pluralitas pemikiran sehingga tidak pantas dikatakan sebagai organisasi moderat.

Sudah menjadi rahasia umum, penyebab perpecahan itu perbedaan pemikiran terutama di bidang keagamaan. HMI MPO tidak mau mengambil risiko dengan mengatakan, Islam tidak mewajibkan wanita berjilbab. Sebaliknya, HMI DIPO berpedoman, Alquran tidak mewajibkan wanita untuk berjilbab, hanya menghimbau.

Dengan demikian, benar apa yang Muhammad Nasih tulis sebagai kritikan kedua, HMI mengalami krisis religiusitas. Dalam hal ini tentu HMI DIPO. Kritik dia itu akan tidak berlaku jika ditujukan kepada HMI MPO.

HMI-KAHMI

Bentuk penguatan terhadap tulisan Muhammad Nasih dengan mengutip statemen Cak Nur, Pemikiran dalam HMI sangat beragam dari ekstrem kiri sampai ekstrem kanan sehingga HMI bak laboratorium tradisi perbedaan,'' merupakan pernyataan yang pada saat ini kurang pada tempatnya. Pernyataan Cak Nur itu akan benar jika untuk menilai HMI pada masa lampau ketika HMI masih satu.

Kesalahan ketiga terdapat dalam alinea ketujuh. Muhammad Nasih telah merasa meng-counter pendapat, HMI itu onderbouw Muhammadiyah. Selain juga, dalam alinea lain, tentang ketiadaan hubungan struktural antara HMI dan KAHMI sehingga sangat tidak mungkin jika keberadaan KAHMI berpengaruh terhadap independensi organisasi HMI.

Saya berikan sebuah wacana, terdapat hubungan yang sangat jelas antara HMI, KAHMI, dan Muhammadiyah.

Tulisan Muhammad Nasih, Tidak ada hubungan struktural antara HMI dan KAHMI, walaupun keduanya sama-sama sedang dan pernah berada pada kawah candradimuka yang satu,'' memang sesuatu yang benar.

Namun bila dikemukakan KAHMI tidak mempunyai pengaruh kuat terhadap independensi organisasi HMI, itu merupakan suatu pernyataan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Memang secara struktural HMI dengan KAHMI tidak ada hubungan, tetapi secara emosional jelas-jelas terdapat hubungan yang sangat erat.

Diakui atau tidak, KAHMI masih memiliki sense of belonging yang kuat terhadap HMI. Karena HMI-lah yang telah membidani kelahiran KAHMI. Demikian juga sebaliknya, sangat besar jasa yang telah diberikan KAHMI terhadap eksistensi HMI.

Tidak ada pemberian gratis. Mungkin ini sebuah ungkapan yang tepat bagi hubungan HMI dan KAHMI. Selama ini, HMI selalu mendapatkan kucuran dana yang besar dari KAHMI. Entah berupa uang tunai dari kantung para anggotanya, ataupun berupa disposisi bagi yang kebetulan berada di lembaga pemerintahan.

KAHMI-Muhammadiyyah

Entah kalangan mana yang mengatakan, HMI onderbouw Muhammadiyah. Yang jelas, Muhammad Nasih merasa meng-counter pendapat itu yang sangat mungkin muncul dari tubuh HMI.

Memang benar adanya, mahasiswa Muhammadiyah telah menghimpun diri dalam salah satu ortom yang ada di Muhammadiyyah, yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Namun bukan berarti Muhammadiyyah hanya akan merekrut kader (anggota) dari ortom-ortomnya saja, dan menutup diri untuk tidak menerima kader dari organisasi nonmuhammadiyah.

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan senantiasa membuka diri untuk menerima kader dari kalangan mana pun sejauh masih beragama Islam, baik dari kalangan NU, abangan (nasionalis), maupun orang yang baru saja pindah dari agama lain. Terlebih lagi anggota KAHMI.

Kondisi semacam itulah yang kemudian menarik para anggota KAHMI berlomba-lomba'' untuk dapat menjadi pimpinan di Muhammadiyah.

Entah apa sebabnya, hampir tidak ada mantan aktivis HMI (anggota KAHMI) yang berusaha untuk masuk ke organisasi NU. Padahal, seperti dijelaskan Muhammad Nasib, anggota HMI mayoritas berasal dari kalangan NU.

Malik Fadjar, salah satu contoh dari sekian banyak anggota KAHMI yang melibatkan diri dalam Muhammadiyah. Dalam Muktamar Ke-44 Muhammadiyah di Jakarta, Malik bahkan berani mengajukan diri sebagai calon ketua PP Muhammadiyah meskipun akhirnya gagal.

Anggota KAHMI, entah apa pun alasannya, akan selalu berusaha untuk menjadi penguasa, di mana saja mereka berada, baik itu Muhammadiyah, IDI, pemerintahan, maupun organisasi lain.

Ini dapat dimaklumi karena KAHMI sebenarnya hanya organisasi silaturahmi, tanpa ada bidang garapan yang riil sebagaimana Muhammadiyah, juga organisasi-organisasi lain.

Memang benar apa yang Muhammad Nasih tulis, HMI bukan onderbouw Muhammadiyah. Namun jika dikatakan HMI onderbouw anggota KAHMI yang menyusup dalam tubuh Muhammadiyah, itu merupakan suatu hal yang sangat tidak dapat dimungkiri kebenarannya.

Akhirnya, jika memang HMI merasa gengsi ataupun ketakutan untuk dikatakan sebagai onderbouw Muhammadiyah, anggota KAHMI harus memberanikan diri untuk tidak menyusup ke tubuh Muhammadiyah.

Sebagaimana pernah dilarang oleh Cak Nur sewaktu masih menjabat ketua, yang mengharamkan'' anggota HMI masuk ke Mu hammadiyah. Kemudian direspons oleh Amien Rais yang murtad'' dari HMI lalu mendirikan IMM dengan melarang orang Muhammadiyah masuk HMI.

Beranikah HMI merekomendasikan agar KAHMI tidak melibatkan diri dalam organisasi Muhammadiyah? (Suko Rahadi, mantan ketua DPM Unnes)

Tulisan ini diambil dari Suara Merdeka, 19 Juli 2001
Read more...